Minggu, 08 Juni 2014

JENIS-JENIS KONTEKS WACANA



JENIS-JENIS KONTEKS WACANA

            Sejak awal 1970-an, para linguis sadar akan pentingnya konteks dalam menafsirkan berbagai macam kalimat (Arifin dan Rani, 2006: 166). Konteks merupakan situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi (Mulyana, 2005: 21). Konteks sangat menentukan makna suatu ujaran. Bila konteks berubah, berubah juga makna suatu ujaran. Konteks dapat dianggap sebagai sebab dan alasan terjadinya suatu pembicaraan atau dialog. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tuturan sangat bergantung pada konteks yang melatarbelakangi peristiwa tuturan itu. Beberapa konsep yang berkaitan dengan konteks wacana yang diperlukan dalam analisis wacana akan dibahas sebagai berikut.
1. Praanggapan
            Praanggapan merupakan asumsi-asumsi atau inferensi yang tersirat dalam ungkapan linguistik tertentu (Cummings, 2007: 42). Selanjutnya, Yule (2006: 33) menyatakan, praanggapan sebagai asumsi penutur sebelum membuat ujaran. Mulyana (2005: 14) mengungkapkan, anggapan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa yang menjadikan bentuk bahasa menjadi bermakna bagi pendengar atau pembaca disebut praanggapan. Sama halnya dengan Chaer (2010: 32) yang menyatakan praanggapan sebagai pengetahuan bersama yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur yang melatarbelakangi suatu tindaktutur. Jadi, praanggapan merupakan asumsi yang dipikirkan oleh penutur sebelum ia menyampaikan pesan kepada mitra tutur atau pendengar.
Filmore (dalam Arifin dan Rani, 2006: 145) mengemukakan, “dalam setiap percakapan selalu digunakan tingkatan-tingkatan komunikasi yang implisit atau praaggapan dan eksplisit atau ilokusi”. Contohnya, ujaran dapat dinilai tidak relevan atau salah bukan hanya dilihat dari segi cara pengungkapan peristiwa yang salah pendeskripsiannya, tetapi juga pada cara membuat peranggapan yang salah.
            Kesalahan membuat praanggapan mempunyai efek dalam ujaran manusia. Semakin tepat praanggapan yang dihipotesiskan, semakin tinggi pula nilai komunikasi suatu ujaran. Praanggapan dapat diketahui benar tidaknya dengan ungkapan kebahasaan yang dapat diketahui dan diidentifikasi melalui ujian kebahasaan khususnya dengan ketetapan dalam peniadaan tetap kebenarannya walaupun kalimatnya dihilangkan (Lubis, 2011: 62). Berikut contoh pernyataan tersebut.
            Kuliah Wacana dijadwalkan pada Kamis.
Praanggapan atas pernyataan tersebut adalah:
(a) Ada kuliah Wacana
(b) Ada semester 6
            Selanjutnya, contoh sebelumnya jika dinegatifkan menjadi: Kuliah Wacana tidak dijadwalkan pada Kamis. Praanggapan atas pernyataan tersebut tetap sama. Strawson (dalam Lubis, 2011: 62) menyatakan suatu pernyataan A berpraanggapan B apabila:
(a) A benar, B benar
(b) A tidak benar, B benar
            Praanggapan tersebut merupakan praanggapan pragmatik. Levinson (dalam Nadar, 2013: 66) mengungkapkan praanggapan pragmatik mengandung dua hal pokok, yaitu kesesuaian atau kepuasan dan pemahaman bersama. Pernyataan tersebut mendefinisikan suatu ungkapan A berpraanggapan B jika A adalah sesuai dan jika B sama-sama dietahui oleh partisipan. Jadi, apabila kalimat yang dipakai tidak wajar atau sesuai dan praanggapannya tidak diketahui pendengar, kalimat tersebut tentu tidak akan dipahaminya. Oleh karena itu, pembicara sebaiknya membuat kalimat dengan praanggapan yang dapat diketahui pendengar agar pendengar dapat memahami ucapan pembicara.
            Selanjutnya, dari sisi pendengar tentu ingin menarik sebuah praanggapan dari pernyataan yang diungkapkan oleh pembicara. Arifin dan Rani (2006: 147) menyatakan “praanggapan adalah sesuatu yang dijadikan oleh si penutur sebagai dasar penuturannya”. Berdasarkan pernyataan tersebut, cara menarik praanggapan dapat dilihat melalui contoh ujaran berikut.
(a) kami tidak jadi pulang kampung.
(b) hari selasa ujian.
            Secara otomatis kata-kata yang dipakai pembicara dapat ditarik praanggapan:
            Kata tidak jadi memberi arti bahwa kami seharusnya pulang kampung. Selanjutnya, kata ujian membawa praanggapan ada ujian. Jadi, praanggapan kedua kalimat tersebut adalah (a) kami seharusnya pulang kampung dan (b) ada ujian.


2. Implikatur
            Dalam lingkup analisis wacana, implikatur berarti sesuatu yang terlibat atau menjadi bahan pembicaraan. Secara struktural, implikatur berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan sesuatu yang diucapkan dengan yang diimplikasikan (Mulyana, 2005: 11). Sama halnya dengan Chaer (2010: 33) yang menyatakan, implikatur merupakan keterkaitan antara ujaran dari seorang penutur dan lawan tutur. Jadi, suatu dialog yang mengandung implikatur akan melibatkan penafsiran yang tidak langsung. Levinson (dalam Lubis, 2011: 73) menyatakan empat faedah konsep implikatur, yaitu:
a. dapat memberikan penjelasann makna atau fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistik;
b. dapat memberikan penjelasan yang tegas tentang perbedaan lahiriah dari yang di maksud pemakai bahasa;
c. dapat memberikan pemerian semantik yang sederhana tentang hubungan klausa yang dihubungkan dengan kata penghubung yang sama;
d. dapat memberikan berbagai fakta yang secara lahiriah terlihat tidak berkaitan, tetapi berlawanan.
            Grice (dalam Mulyana, 2005: 12) menyatakan, ada dua macam implikatur, yaitu implikatur konvensional dan implikatur percakapan. Implikatur konvensional ditentukan oleh arti konvensional kata-kata yang dipakai. Semua orang umumnya sudah mengetahui tentang maksud atau pengertian hal tertentu, misalnya:
Dia orang Medan, oleh karena itu dia bicara lantang.
            Contoh tersebut tidak secara langsung menyatakan suatu ciri (bicara lantang) disebabkan oleh ciri lain (jadi orang Medan), tetapi bentuk ungkapan yang dipakai secara konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti itu ada. Kalau individu yang dimaksud itu orang Medan dan tidak bicara lantang, implikaturnya yang keliru, tetapi ujarannya tida salah.
            Sementara itu, implikatur percakapan muncul dalam satu tindak percakapan dan bersifat temporer (terjadi saat berlangsungnya tindak percakapan), berikut contohnya.
Ibu: Rani, adikmu belum pulang.
Rani: Ya, Bu. Saya ambil jaket dulu.
            Percakapan Ibu dan Rani tersebut mengandung implikatur yang bermakna “perintah menjemput”. Tuturan itu berbentuk kalimat perintah. Ibu hanya memberitahukan “adik belum pulang”. Namun, Rani dapat memahami implikatur yang disampaikan ibunya, ia menjawab dan siap untuk melaksanakan perintah ibunya. 
Grice membedakan dua macam makna, yaitu natural meaning atau makna alamiah dan non-natural meaning atau makna non-alamiah. Rumus Grice tentang makna tersebut sebagai berikut.
B bermaksud makna nn sebagai Z dengan mengungkapkan U kalau:
(1) B bermaksud menyebabkan terjadinya efek Z pada penerima D
(2) B bermaksud (i) akan terjadi dengan kesadaran saja oleh D akan adanya maksud (i)
            B adalah pembicara dalam hal komunikasi lisan dan pengirim; D adalah pendengar atau penerima; “mengungkapkan U” merupakan pengungkapan satu isyarat linguistik, yaitu: bagian dari kalimat, kalimat atau rangkaian kalimat, atau rangkaian bagian kalimat; dan Z adalah pengetahuan kemauan yang ditimbulkan D (Lubis, 2011: 75).
Implikatur percakapan mengutip prinsip kerja sama atau kesepakatan bersama untuk dapat menggunakan bahasa secara berhasil dan berdaya guna. Dalam penerapannya, prinsip kerja sama ditopang oleh seperangkat asumsi yang disebut bidal-bidal kesepakatan atau maksim. Maksim-maksim tersebut adalah:
a. maksim kuantitas, bermaksud agar kita berbicara seperlunya saja dan tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu;
b.  maksim kualitas, berarti jangan mengatakan sesuatu yang tidak benar atau tidak mempunyai bukti yang cukup;
c. maksim relasi, berarti kita berbicara sesuai dengan yang dipermasalahkan;
d. maksim cara, supaya kita berbicara yang jelas (Lubis, 2011: 76).

3. Inferensi
            Gumperz menyatakan inferensi atau penarikan simpulan ditentukan oleh situasi dan konteks percakapan sehingga pendengar menduga kemauan penutur dan meresponsnya (Arifin dan Rani, 2006: 161). Pembaca atau pendengar harus dapat mengambil pengertian, pemahaman, atau penafsiran suatu makna tertentu. Dapat dikatakan, pembaca harus mampu mengambil simpulan sendiri, meskipun makna tersebut tidak terungkap secara eksplisit. Selanjutnya, Cummings (2007: 105) menyatakan, proses inferensi merupakan proses yang dapat digunakan oleh lawan bicara untuk memperoleh implikatur-implikatur dari ujaran penutur yang dikombinasikan dengan ciri-ciri konteks. Jadi, dapat disimpulkan bahwa inferensi merupakan proses penarikan simpulan yang digunakan pendengar terhadap ujaran yang disampaikan penutur dan simpulan tersebut ditentukan oleh situasi dan konteks.
            Wacana lisan yang bersifat dialogis (percakapan) tidak hanya menentukan oleh aspek-aspek formal bahasa dalam makna ujaran, melainkan oleh konteks situasional. Dengan cara itu, pendengar dapat menduga maksud dari pembicara, dan dengan itu pula pendengar dapat memberikan responsnya. Di samping aspek konteks situasional, aspek sosio-kultural juga menjadi faktor penting dalam memahami wacana inferen, sebagai contoh:
A: Wah, sudah masuk kota. Kita cari dodol dulu.
B: Langsung ke ibu Nurjannah saja!
            Kota yang di maksud dalam percakapan tersebut adalah Kota Kandangan. Penjelasan itu dipastikan benar, karena secara kultural Kandangan dikenal sebagai kota sentra pembuatan dodol. Lebih jelas lagi, jawaban B yang menekankan “Ibu Nurjannah” yang memang dikenal sebagai pembuat dodol yang enak. Proses inferensi itu yang harus dilakukan pendengar atau pembaca untuk mendapatkan simpulan yang jelas.
            Apabila terdapat perbedaan antara si penutur dan pendengar, baik dalam bidang sikap, latar belakang maupun status mereka, kemungkinan penarikan simpulan yang salah akan terjadi. Berikut contohnya.
(a)    Rafa berangkat ke rumah sakit kemarin
(b)   Dia benar-benar cemas dengan operasi pemisahan kembar siam
Kebanyakan orang yang membaca kedua kalimat tersebut akan menganggap Rafa adalah orang tua bayi kembar siam. Karena informasi itu tidak langsung dinyatakan di dalam teks, informasi itu disebut sebagai inferensi. Aspek inferensi yang menarik adalah bahwa inferensi itu merupakan sebuah penafsiran yang mudah hilang dari pembaca jika tidak cocok dengan informasi berikutnya. Kalimat berikutnya dari contoh di atas sebagai berikut.
(c)    Minggu lalu dia gagal melakukan operasi.
Setelah mengetahui kalimat tersebut, kebanyakan pembaca memutuskan bahwa Rafa adalah seorang dokter bedah dan dia kurang bahagia.



v UNSUR-UNSUR KONTEKS
Hymes (1972) merumuskan dengan baik ihwal faktor-faktor penentu peristiwa tutur tersebut, melalui akronim SPEAKING. Delapan faktor tersebut sebagai berikut.
1)      Setting ‘latar’ dan scene ‘suasana’, latar lebih bersifat fisik, meliputi tempat dan waktu terjadinya tuturan. Scene merupakan latar psikis yang mengacu pada suasana psikologis.
2)      Participants ‘partisipan’, mengacu pada peserta yang terlibat dalam komunikasi, misalnya penutur dan petutur atau penulis dan pembaca.
3)      Ends ‘hasil’, yang mengacu pada tujuan dan hasil komunikasi.
4)      Act sequences ‘pesan’, mengacu pada bentuk dan isi pesan.
5)      Keys ‘cara’, mengacu pada cara ketika melakukan komunikasi, misalnya komunikasi dilakukan dengan cara yang serius, santai dan lain-lain.
6)      Instrumentalities ‘sarana’, yang mengacu pada sarana yang dipakai dalam menggunakan bahasa, yang meliputi (a) bentuk bahasa yaitu lisan atau tulisan dan (b) jenis tuturannya, yaitu dengan bahasa standar atau dengan dialek tertentu.
7)      Norms ‘norma’, yang mengacu pada perilaku partisipan dalam berinteraksi.
8)      Genre ‘jenis’, yang mengacu pada tipe-tipe teks seperti dongeng, iklan dan lain-lain (dalam Mulyana, 2005: 23).
Berikut ini adalah contoh kedelapan unsur konteks wacana yang telah disebutkan di atas.
Pukul enam sore, Desa Sukamaju sudah tampak sunyi seperti kuburan. Terpaksa aku mnutup pintu rumah. Masuk, dan tiduran. Aku terbangun jam tiga pagi dan mendengar suara gaduh di dapur. Ternyata aku melihat ibu sudah sibuk memersiapkan barang dagangan.
“Ibu masak apa untuk dijual hari ini?” tanyaku pada ibu.
“Masak sayur asem dan sayur lodeh, Nak” jawab ibu.
“Semoga dagangan ibu hari ini laku terjual habis, ya Bu!”
“Amin. Nak, kamu harus belajar yang rajin ya agar jadi orang  yang sukses.”
“Iya, saya akan belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat mewujudkan keinginan ibu. Doakan saya selalu ya, Bu”.
“Iya, Nak, di setiap doa ibu selalu teserta namamu”.
Pada contoh dating aspek setting tempat terlihat pada kata Desa Sukamaju dan dapur. Setting waktu terlihat pada jam tiga pagi. Kemudian, partisipannya adalah ibu dan anak. Tujuan akhir pembicaraan atau ends ditujukan oleh perkataan ibu terhadap anaknya yang menginginkan anaknya itu sukses di masa depan. Act atau bentuk pesan yang ada pada contoh tersebut adalah bentuk nasehat. Selanjutnya, cara (key) yang ditunjukkan adalah pembicaraan yang serius dengan sarana (instrumentalities) lisan. Pesan yang disampaikan si ibu adalah norma yang halus. Genre atau jenis contoh datas adalah jenis fiksi prosa.

v CIRI-CIRI KONTEKS
            Hymes (dalam Lubis, 2011: 87) mencatat tentang ciri-ciri konteks yang relevan sebagai berikut.
1)   Advesser (pembicara) dan Advesse (pendengar)
Mengetahui si pembicara dan pendengar atau yang disebut partisipan pada suatu situasi akan memudahkan untuk menginterpretasikan pembicaraannya. Berkaitan dengan partisipan perlu diperhatikan latar belakang partisipan untuk memudahkan penginterpretasian penuturannya (Arifin dan Rani, 2006: 169).
2)   Topik pembicaraan
Dengan mengetahui topik pembicaraan, akan memudahkan seseorang yang mendengarkan untuk memahami pembicaraan.
3)   Setting (waktu, tempat)
Yang di maksud setting adalah waktu dan tempat pembicaraan yang dilakukan. Termasuk juga hubungan antara si pembicara dan pendengar, gerak-gerik tubuh, dan gerak-gerik roman mukanya.
4)   Channel (penghubungnya: bahasa tulisan, lisan, dan sebagainya)
Channel berfungsi untuk memberikan informasi pembicara dengan cara, baik lisan, tulisan telegram, dan lain-lain. Pemilihan channel bergantung pada beberapa faktor (kepada siapa ia bicara dan dalam situasi, baik dekat maupun jauh).
5)   Kode (dialeknya, stailnya)
Jika channel-nya lisan, kode yang dapat dipilih yaitu antara salah satu dialek bahasa itu. Terasa aneh jika ragam baku dipakai untuk tawar menawar dan ragam tidak baku untuk berkhutbah. Pemilihan kode bahasa yang tidak tepat sangat berpengaruh pada efektifitas komunikasi.
6)   Massage from (debat, diskusi, seremoni agama)
Pesan yang hendak disampaikan harus tepat karena bentuk pesan ini bersifat fundamental dan penting. Bentuk itu haruslah umum jika pendengarnya banyak dan bentuk pesan itu khusus jika ditujukan terhadap pendengar tertentu.
7)   Event (kejadian)
Kejadian yang di maksud adalah peristiwa tutur tertentu yang mewadahi kegiatan bertutur, misalnya pidato, percakapan, seminar, dan sidang pengadilan.
Berdasarkan ciri-ciri konteks yang telah diuraikan di atas, dapat dilihat bahwa komponen-komponen pembicaraan itu satu dengan yang lain saling berkaitan.

v JENIS-JENIS KONTEKS
Jenis konteks diklasifikasikan Preston (dalam Mulyana, 2005: 24) dengan unsur-unsur penentu percakapan (SPEAKING) di atas. Klasifikasi tersebut, yakni.
1)      Konteks dialektal  = a) partisipan
b)   jenis wacana
2)      Konteks diatipik   = a) latar
b)   hasil
c)   amanat
3)      Konteks realisasi  = a) sarana (saluran)
b)   norma
c)cara berkomunikasi
Pendapat lain justru mengemukakan konteks pemakaian bahasa dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu.
a.       Konteks fisik yang meliputi tempat terjadinya pemakaian bahasa dalam suatu komunikasi.
b.      Konteks epistemis, latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh penutur dan mitra tuturnya.
c.       Konteks linguistik yang terdiri atas kalimat-kalimat atau ujaran-ujaran yang mendahului dan mengikuti ujaran tertentu dalam suatu peristiwa komunikasi, konteks linguistik ini disebut juga dengan istilah konteks.
d.      Konteks sosial, relasi sosio-kultural yang melengkapi hubungan antarpelaku atau partisipan dalam percakapan (Syafi’i dalam Lubis, 2011: 60).
            Keempat konteks itu memengaruhi kelancaran komunikasi. Mula-mula kita lihat betapa pentingnya konteks linguistik karena kita dapat memahami dasar tuturan dalam suatu komunikasi. Tanpa pengetahuan struktur bahasa dan wujud pemakaian kalimat tentu komunikasi tidak berjalan lancar. Pengetahuan struktur bahasa tidak cukup tanpa pengetahuan kontak fisiknya, ditambah pengetahuan konteks sosial dan konteks epistemiknya. Berikut ini adalah contoh keempat jenis wacana yang telah disebutkan di atas.
Konteks: Pembicara: seorang ibu
Pendengar: mahasiswi
Tempat: puskesmas
Situasi: mahasiswi menunggu temannya yang sedang diperiksa oleh dokter. Ada seorang ibu duduk di sebelahnya.
Waktu: 10.00 WITA
Ibu: siapa yang sakit?
Mahasiswi: teman saya, Bu.
Ibu: oh, sakit apa?
Mahasiswi: batuk. Ibu sendiri?
Ibu: mau periksa mata, De.
Mahasiswi: matanya minus ya, Bu?   
            Konteks linguistik terlihat pada tuturan seorang ibu yang menggunakan kalimat tanya. Si mahasiswi lalu menjawab karena si ibu bertanya. Selanjutnya konteks  fisik terlihat dari pertanyaan si ibu “siapa yang sakit?” dan pernyataan si ibu “mau periksa mata, De”, hal tersebut menandakan partisipan sedang berada di instansi kesehatan. Jawaban mahasiswi yang menggunakan kata “saya” menandakan bahwa dia bersikap sopan karena lawan bicaranya lebih tua darinya. Hal tersebut merupakan konteks sosial. Konteks pengetahuan terlihat pada saat si ibu menyatakan ingin periksa mata dan mahasiswi menjawab dengan pertanyaan “matanya minus ya, Bu?” Itu menandakan adanya pengetahuan tentang topik yang dibicarakan.

Daftar Rujukan:
Arifin, Bustanul dan Abdul Rani. 2006. Analisis Wacana: Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayu Media Publishing.

Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta.

Cummings, Louise. 1999. Pragmatik: Sebuah Perspektif Multidisipliner. Terjemahan Eti Setiawati, dkk. 2007. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lubis, A. Hamid Hasan. 2011. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Nadar, F.X. 2013. Pragmatik & Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Yule, George. 1998. Pragmatik. Terjemahan Jumadi. 2006. Banjarmasin: PBS FKIP Universitas Lambung Mangkurat.